Kenapa Aku Suka Menunggu Padahal Tahu Itu Nggak Produktif?
Aku ingat dulu sering banget ngecek ponsel setiap sepuluh menit, nungguin notifikasi chat dari seseorang yang sebenernya juga kupikirin terus. Logikanya konyol: kalau dia memang mikirin aku, pasti dia yang ngechat duluan kan? Jadi aku wait. And wait. Sampai akhirnya hubungan itu memudar bukan karena ada masalah besar, tapi karena keduanya saling nunggu sinyal yang nggak pernah datang.
Baru belakangan aku sadar (sebenarnya bukan belakangan tapi muncul lagi) pola nunggu dipilih ini ternyata jejak dari attachment style yang dulu kupunya. Anxious tapi ekspresinya malah jadi avoidant. Takut ditolak, jadi mending diam. Padahal yang kulakukan bukan boundary, tapi surrender. Menyerah pada kemungkinan koneksi cuma gara-gara ego yang rapuh.
Kemarin baca mantra ini dari Jesse:
Be the one who reaches out. Text first. Call first. Plan first. Initiate first. Most people wait to be chosen, be the chooser. Connection requires initiative. Friendship requires effort. Love requires action. Stop waiting to be picked. Initiative is attractive.
— upwithjesse
Dan itu ngena karena dia membalik narasi. Kita nggak harus jadi produk yang nunggu dibeli, tapi bisa jadi yang memilih. Initiative bukan tanda keputusasaan, justru tanda keberanian. Orang yang kirim pesan pertama, yang ajak ngopi tanpa ditanya, yang bilang aku kangen duluan, mereka bukan yang lemah. Mereka kuat karena berani tanggung risiko kecil demi sesuatu yang berpotensi besar.
Tapi jujur aku punya pola, aku suka menunggu. Dan tidak keberatan menunggu. Mungkin karena menunggu itu tindakan pasif, aman, tanpa risiko, nggak perlu bear the weight of rejection. Dulu pernah ada yang bilang aku nggak pernah inisiatif duluan. Dan dia bener. Pola chat aku di awal engaged, tanya jawab dua arah. Lama-lama cuma jawab aja, nggak tanya balik. Aku punya keyakinan yang sekarang kubilang excuse bahwa kalau udah cukup kenal ngobrol bisa santai tanpa tanya balik. Kalau dia mau cerita ya cerita aja. Aku akan dengar.
Yang lebih parah, aku sebenernya punya kemampuan notice orang lain. Aku bisa lihat kalau seseorang lagi butuh diajak ngobrol atau lagi nggak baik baik aja. Tapi aku nggak act. Informasi itu cuma tersimpan di kepala, jadi data pasif. Aku tahu tapi diam. Mungkin takut salah baca atau takut dibilang sok care. Tapi ternyata buat orang yang anxious silence itu dibaca sebagai udah nggak tertarik. Beberapa kali malah di read terus ghosting. Dan aku? Aku nggak ngejar. Karena menunggu lebih mudah daripada move.
Sekarang aku lagi belajar jadi orang yang reach out duluan. Masih susah, ada voice di kepala yang bilang kamu ngeganggu atau dia pasti sibuk. Tapi aku coba cari cara biar lebih bertanggung jawab sama apa yang aku notice. Ngomong langsung aja pas di momen itu, nggak nunggu besok atau lusa. Kasih tahu diri sendiri kalau aku punya batasan juga, jadi nggak overwhelm tapi tetap bisa present buat orang lain. Dan yang paling penting, nggak nge-judge diri sendiri kalau ternyata salah baca atau ditolak.
Kadang aku bergumam sendiri, kenapa sih susah banget ngomong duluan. Padahal cuma bilang gimana kabarmu atau aku kangen ngobrolin ini sama kamu. Kenapa harus nunggu sampai momen hilang atau orang itu udah nggak ada.
Gabor Maté bilang gini:
Being cut off from our own natural self-compassion is one of the greatest impairments we can suffer.
Dan dia juga bilang kalau kamu punya empathy ke diri sendiri, kamu akan punya boundaries. Kalau kamu nggak punya boundaries, berarti kamu nggak punya empathy ke diri sendiri. Ini ngena banget karena selama ini aku pikir aku nggak inisiatif karena nggak peduli. Ternyata aku nggak inisiatif karena takut, dan aku takut karena aku nggak kasih compassion ke diriku sendiri untuk tanggung risiko rejection.
Belakangan aku coba chat temen lama cuma buat nanya kabar. Ternyata dia lagi butuh orang curhat. Dan dia bilang makasih udah inget aku. Jujur rasanya rewarding banget karena ternyata langkah kecil itu bisa berarti besar buat orang lain, padahal buat aku cuma butuh sepuluh detik keberanian. Mungkin memang sebagian besar orang juga lagi nunggu ada yang ambil langkah pertama. Mereka juga takut. Bedanya ada yang tetap diam, ada yang akhirnya move. Rejection itu cuma data. Regret yang berat.
Jadi kenapa aku suka menunggu padahal tahu itu nggak produktif? jawaban mudahnya adalah habits, kebiasaan yang terbentuk sejak lama. Tapi jauh di dalam itu karena aku takut, dan ya.. takut juga mengakui kalo aku takut. Rasa takut yang memegang kendali diriku terlalu lama. Dan karena aku belum belajar kasih compassion ke diriku sendiri untuk berani ambil risiko. Tapi aku lagi belajar sekarang. Pelan pelan.
Jalur ke secureku bukan yang natural atau bawaan. Ini tipe earned dan learned. Aku nggak tumbuh dengan fondasi itu sejak kecil, tapi aku coba bangun sendiri sekarang dengan trial and error, dengan rasa sakit, dengan gagal berkali kali. Dan mungkin justru karena aku harus earn it, aku jadi lebih aware sama prosesnya. Aku tahu persis di mana aku dulu, di mana aku sekarang, dan masih panjang jalan ke depan.
Terima kasih.